Coretan Elsa
Elsa

Navigation : touch hover image



Diaries Owner Linkies Stuff

Hello peeps ! Welcome to superb blog. Happy Blogwalking :D


Bigfoots!



Credits!

basecode: Nurul AtiQah
Edit by: Elsa
Re-Edited By: Elsa
Others: Google Tumblr


Di Balik Penulisan KKJD Misteri Koper Detektif

Assalamu'alaikum....
Halo, kawan-kawan! Kali ini, Elsa mau posting lagi tentang fakta dan peristiwa di balik KKJD Misteri Koper Detektif: Menguak Pencurian Aneh, yang mana merupakan buku keempat Elsa. Yuk, kita simak, daripada keponya ditahan-tahan. Mweheh...


  1. Permintaan dari Kakak KKPK
Sebenarnya, pembuatan KKJD ini adalah permintaan dari Kak Dhan (nama samaran). Jadi, aku dan beberapa penulis lain yang dikategorikan mampu menulis buku tentang kedetektifan dan misteri dikumpulkan dalam grub FB. Kemudian, kami disuruh membuat cerita KKJD begitu. Penulis Cilik di grub tersebut yang buku KKJD-nya sudah terbit misalnya: Fayanna, Ayesha, Yohana Fransisca, dan aku.

     2.  Elsa, halamannya masih kurang!
Tak lama setelah menerima SPP (Surat Perjanjian Penerbitan), aku di FB sama Kak A (nama samaran). Beliau bilang halamannya masih kurang, dan harus ditambah lagi. Aku pun berpikir, gimana cara nambahnya? Dan tahu, enggak? Saking seriusnya mikir, aku ditegur temanku gara-gara kotak bekalku kebuka, sementara aku melamun gitu aja di depannya! Hahahaha.... :D Dan setelah berpikir matang dan sedikit gosong(?), aku berhasil menambahkan halamannya, dengan menambah sebuah bab berjudul Ulang Tahun Detective Club. Yeaaay! '-')/

     3. Si Lima Sekawan
Kelima sekawan-Widya, Indy, Pasha, Raditya, dan Kak Sherry- adalah tokoh yang mewakilkan aku dan kelima sahabatku, lho. Aku sebagai Widya, karena mereka gak mau jadi tokoh utamanya '-' Amel sebagai Indy, karena dia sahabat setia :) Wahyu sebagai Pasha, karena sesama gemuk dan bersahabat dengan Dika sebagai Raditya. Terakhir, Indry sebagai Kak Sherry, karena dia tertua dan terpintar diantara kami. Jujur, aku suka Raditya dibanding Widya. Alasannya? Rahasia :P

     4. Lapangan Puputan
Di cerita KKJD-ku, ada yang namanya Lapangan Puputan. Lapangan Puputan ini adalah lapangan yang berada di jantung Kota Denpasar. Kenapa aku memakai tempat ini? Karena Lapangan Puputan ini termasuk lapangan yang bersejarah dalam masa SD-ku. Ketika aku kelas 5 dan kelas 6, aku dan teman-temanku olahraganya disini, karena sekolahku itu sempit lapangannya. Saat pertama kalinya aku ke Lapangan Puputan, kelas 5D, aku pernah kejeduk tiang listriknya :v

     5. Belum Selesai!
Sekarang ini, aku sedang menggarap lanjutan dari KKJD ini. Cerita tentang Widya, Indy, Pasha, Raditya, dan Kak Sherry belum berhenti. Kisah ini seru, lho! Lebih banyak teka-teki, kejutan, dan lain-lain. Yah, doakan saja cepat selesai, ya. Amiiin....

Wassalamu'alaikum....

Label: , , , ,


4 Bulan KPCI, Senang Tapi Sedih (Part II)




Sudah selesai lomba, nih. Sekarang, Small Group Discussion bersama para penulis senior . Karena aku kelompok 1, maka aku mendapat Kak Kinta untuk menjadi fasilitator. Tunggu dulu, Kak Kinta?  Wah, ini pemandangan langka. Aku dapat menemui Kak Kinta secara langsung  Kak Kinta memberi kami tips-tips menulis dan perjalanan kepenulisannya.


Sekarang, waktunya istirahat dan sholat ashar. Tetapi, sebelum itu, kita harus mengambil sebuah kertas dari
suatu kotak. Tujuannya untuk mengetahui kita dapat workshop apa. Pilihannya ada 2: Cerita misteri dan komik. Karena aku jago menggambar, jadi aku ingin mendapat komik. Dan..., aku dapat komik

Haah..., lelahnya habis bertemu Kak Kinta .Saat aku mau berbaring di kasur, ada seorang anak yang memasuki kamarku. Itu adalah, Sausan. Dia meminta aku untuk membukakan kunci kamarnya. Setelah mencoba dan terus mencoba, akhirnya bisa  Aku kembali ke kamarku, dan ternyata, aku kekunci diluar  Alhamdulillah, Sausan mau menolongku dengan memanggilkan room service  Makasih banyak, ya, Sausan. Maaf merepotkan 

Aku pun berwudhu untuk sholat, lalu datanglah Yasmin dan Aning. Mereka berdua akan sholat bergilir bersamaku. Tapi..., sholatnya sambil ketawa ketiwi. Jadi, baru takbiratul ikhram, langsung guling-guling, deh, di lantai . Sumpah, tetap seruuu.... Setelah sholat, kami ke ballroom untuk workshop komik KKPK. Ternyata, Meiza dan Fidzoh juga ikut komik. Aku membuat komik saat terkunci tadi. Kak Anjar memujiku karena komikku paling bagus. Hehehe..., Elsa gitu, loh, kak 

Setelah mandi dan sholat maghrib, waktunya konferensi. Aku dan Yasmin masuk komisi A. Di tiap-tiap komisi harus ada ketua untuk perwakilan jadi ketua KPCI. Dari komisi A ada Kaffi, B ada Rafid, C dan D unknown  Aku pilih Rafid sebagai ketuanya. Soalnya, aku ingin mendengar suara cemprengnya saat di gedung kemendikbud besok.

Hari Ketiga....
Kakiku mulai berdetap. Sekarang, aku dan Yasmin berada di lobby hotel. Kami akan bermain bersama Rafid dan Raihan. Setelah itu, kami sarapan dan menuju bis masing-masing. Aku duduk sama Yasmin. Kami akan pergi ke Gedung Kemdiknas.
Ternyata, aku enggak menang . Hiks, sedih banget, deh  Tapi enggak apa. Impianku yang lain akan segera terwujud: Ke Kidzania. Bersama Rafid, Echa, dan Raihan, aku menjadi dubber, penjual koran, paradewan, dan pembuat surat kabar.
Saat di Kidzania akan kembali ke hotel, aku menangis. Aku teringat kawan-kawanku di Bali. Teman-teman KPCI itu enggak lebay, heboh, seru, dan baik-baik semua. Kalau di sekolahku, teman-temanku itu lebay, enggak baik, sering bully aku, dan sering merendahkanku. Mereka juga sering menganggapku lebay . Teman-teman KPCI berlomba menulis menurut imajinasi mereka sendiri. Teman sekolah sering menyontek ulanganku, PR-ku, tryout, dan latihan. Terkadang, mereka mengambil barangku tanpa izin. Dan terkadang, mereka mengambil gambaranku saat aku sedang menggambar. Teman-teman yang jahat sekali. Aku terus menangis sampai di bus. Di tengah kemacetan, turunlah hujan. Langit bagaikan mengikutiku menangis. Aku terdiam, menitikkan air mata kesedihan, dan tertidur.

Aku terbangun dari tidurku. Aku menuju ballroom. Disana, aku menerima piala KKPK sebagai Penulis Best Seller KKPK Surat Misterius. Setelah itu, renungan. Renungan ini cukup membuatku terharu, karena besok akan menjadi hari yang sangat menyedihkan dalam hidupku.

Hari Keempat
Jam 16. 40 WIB. Aku terdiam. Saat ini, aku sudah berada di Bandara Soekarno-Hatta. Aku berangkat menuju Bali. Saat perjalanan, aku terus menangis tanpa henti. Tidaklah adil jika KPCI berhenti begitu saja  I will miss you, friends. Goodbye for forever....

Label: , ,


Diwawancara

[DEAR DIARY]

Hari ini, aku diwawancara di sekolahku. Aku diwawancara oleh majalah pensil(nama samaran). Kata Pak Sugito, aku dipilih untuk diwawancara karena aku memiliki prestasi. Langsung, deh, aku seneng. Rasanya pengin teriak, tapi aku urungkan. Soalnya, kalau aku teriak, pasti para kru dari majalah pensil langsung pingsan dan tidak akan pernah kembali lagi.

Label: , , ,


Cara mengembalikan mood buat nulis

Halo, readers! Elsa mau share tentang ilmu menulis lagi ^_^ Apakah kamu memiliki ide yang luar biasa banyaknya? Tapi terkadang, kita malas menulisnya? Selamat, kamu tergolong orang yang IBMK(ide banyak minat kuweecil)! Elsa juga kayak kalian kok. Tapi tenang saja, Elsa punya beberapa solusi buat kita semua. So, scroll down!

Ide datang saat menulis cerita yang lain
Source: Kak Asha

-Imagine that!
Maksudnya, setiap Elsa lagi malas-malasnya menulis, Elsa berimajinasi. Jadi, kayak gini: Hm..., kalau bukuku udah terbit, aku bakal dapat banyak teman. Terus, aku disukai teman-temanku. Aku juga bakal disukain sama(sensor). Ya, kira-kira kayak begitu. Kalau kalian mau nambahin apa, gitu, boleh, kok! Itu sesuai keinginan kalian. Kalau kalian menghayati imajinasinya itu, kalian bakal terdorong untuk menulis.

--Explore!
Kita internetan, yuk! Ku kan tunjukkan semua menjadi dongeng yang telah hilang.... #plaaak '-' Kadang-kadang saat Elsa FB-an, Elsa sering menemukan foto buku teman-teman Elsa. Kadang-kadang, Elsa iri sama mereka. Dari situlah, Elsa cabut dari FB, lalu lanjut ngetik.

Begitulah yang Elsa lakukan bila malas nulis. Kalian?
Source: Kak Asha


Label: , , ,


What the?

Diriku menganga. Tak percaya. Lalat masuk ke salah satu lubang hidungku. Tidak kusangka, naskahku cerpenku, yang kubuat saat lomba menulis KPCI kategori penulis, masuk 20 Cerpen terbaik kategori penulis. Nantinya, akan dibuat KKPK Luks.
Itu, tuh, yang kedelapan belas
Aku kira aku bermimpi, maka, aku menarik rambutku. Ini bukan mimpi! Sekarang, aku sedang menunggu ilustrasi dan karya yang lain.

Label: , , ,


I wish....

[DEAR DIARY]

Haah..., gak kerasa, ya, kita sudah memasuki tahun 2014. Aku memiliki keinginan untuk tahun yang baru ini. Yaitu:
  • Bisa berkarya lebih banyak. Agar aku bisa menjadi fasilitator KPCI tahun ini.
  • Masa sitaan laptop berkurang, agar bisa terus berkarya.
  • Masuk Al-Izzah.
  • Tidak diejek, dan di bully teman-teman di sekolah. 
  • Diperbolehkan menyanyi di kelas setiap istirahat oleh teman-teman. Ya, aku sering menyanyi di kelas setiap istirahat, sehingga aku dijauhi. Entah kenapa mereka begitu. Hiks. Kuharap, mereka membaca post ini.
Yang baca berarti mendoakan Elsa dan dirinya sendiri.


Label: , , ,


KPCI

[DEAR DIARY]

Haah.... Gak kerasa banget, ya, KPCI 2013 sudah selesai sejak sebulan silam. Aku sangat kangen dengan teman-teman KPCI. Terutama Sara (Elsa, Rafid) dan Geng Jahil (Elsa, Meiza, Hafidzoh, Yasmin, dan Aning). Mereka yang selalu bikin aku senang, ceria, dan nyaman di KPCI ini. Rasanya, satu hari di KPCI sama dengan satu minggu :3
Sebulan lalu, 20 November 2013, aku merasa gugup, lho. Soalnya, aku adalah satu-satunya peserta KPCI 2013 yang berasal dari Bali. Aku takut semua peserta KPCI mengejekku. Tetapi, prasangkaku itu salah. Mereka malah baik dan ramah kepadaku. Terutama wakil-wakil dari Jawa Timur yang selalu menjulukiku Bali. Jadi, kalau manggil aku, mereka selalu bilang, "Bali, sini kamu, Bali," Hahaha....
Sekarang, aku lebih suka teman-teman KPCI daripada teman-teman sekolah. Teman-teman sekolahku selalu mem-bully aku. Hiks....



Label: , , ,


3 unsur yang dapat menarik perhatian pembaca

"Buku ini bagus,
 baca lagi, ah,"

Assalamu'alaikum.., Elsa bisa bagi-bagi tips lagi, nih. Kali ini, 3 unsur yang dapat menarik perhatian pembaca. Nah, anggaplah ketiga hal nanti itu bumbu, sementara karya kita masakan yang masih dimasak. Kalau kita tambahkan bumbu-bumbu itu, maka masakan kita akan disukai pembaca. Nah, apa saja, sih, ketiga bumbu itu?


1.Komedi
Inilah unsur yang paling disukai pembaca. Komedi adalah unsur yang penuh gelak tawa. Kalian bisa menambahkan unsur ini ke karya kalian. Contohnya: tokoh A berjalan, lalu melihat temannya, tokoh B dikejar banteng. Si A langsung mengambil tali, lalu berlari mengejar tokoh B. Tapi, saat dia lari... dia tersandung batu dan terjatuh! Cukup lucu, bukan? Buku Kak Radiya Dika seperti Radikus Makankakus juga penuh dengan unsur ini. Tak heran, buku ketiganya itu berhasil memasuki cetakan keduapuluh delapan. Wow!

2.Tiba-tiba(konflik mendadak)
Ini adalah unsur yang mengandung unsur penasaran. Misalnya, ada tiga sahabat. Tetapi, salah satu anggota persahabatan itu tiba-tiba tidak ingin bersahabat lagi. Itulah contohnya unsur tiba-tiba atau konflik mendadak.

3. Misteri atau Mistis
Di urutan terakhir, adalah misteri atau mistis. Sama seperti poin kedua, unsur ini mengandung unsur penasaran, tetapi mengandung mistis atau misteri. Contoh bukunya adalah, Fantasteen:Ghost Dormitory yang telah memasuki cetakan keempat belas. Keren, bukan?

Kalian bisa menambahkan satu, dua, atau tiga bumbu-bumbu tadi ke dalam cerita kalian. Sekarang, buatlah cerita semenarik mungkin!

Wassalamu'alaikum....

Label: , ,


Olimpiade di Jakarta Part VI (tamat)

Di Bandara Soekarno-Hatta ….
Kami menurunkan koper-koper kami dari dalam mobil. Kami akan menaruh barang-barang ke dalam bagasi. Tetapi tidak untuk koperku. Saat memasukkan oleh-oleh ke dalam tas. Ada seorang murid dari SD Muhammadiyah 3 berseru.
“Cherrybelle!” Seru anak itu.
Aku segera menutup resleting koper, dan melihat orang-orang yang ditunjuk anak itu. Ternyata benar, itu cherrybelle!
“Ayo, anak-anak. Kita naik dan check in,” Ujar Pak Choliluddin. Kami pun mengangguk dan segera naik untuk check in. Sebenarnya, sih, kami tidak ingin check in. Tetapi bertemu cherrybelle. Hehehe ….
Sambil menunggu tiket, kami bubar tetapi tidak jauh. Ada yang tetap berbaris dan sabar menunggu, membeli buku KKPK di sebuah toko buku, atau mungkin menuju sebuah café sambil melihat cherrybelle di dalamnya.
“El, jepret El,” Bisik Nurul yang berada di belakangku.
Aku segera mengambil kamera dari dalam tas. Kemudian menjepret cherrybelle yang tengah menunggu pesanan mereka. Aku menjepretnya di belakang pohon kecil, jadi enggak ketahuan.
Jepret!
“Sudah,” Bisikku kepada Nurul sambil berlari mendekati barisan.
Angel Chibi bersama mana-
ger cherrybelle di suatu Cafe 
Begitu juga dengan beberapa murid Muhammadiyah Denpasar lainnya yang membututiku. Aku pun menunjukkan foto yang telah kujepret tadi kepada semua siswa.
Setelah menunjukkan foto, aku menuju toko buku kecil. Aku ingin membelinya. Sayangnya harganya mahal dan tiketnya sudah selesai dicetak. Kami pun check in.
Setelah check in, kami menaiki pesawat. Aku berada di tengah-tengah orang yang mendengarkan mp3 player dan orang yang sedang membaca buku. Maka aku pun membaca buku itu sambil menunggu sampai di Bali.
Aku tidak terlalu jauh dari pandangan para guru. Itu karena aku berada di belakang kursinya Pak Choliluddin.
2 Jam kemudian ….
Pesawat sudah sambai di Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Kami pun menunggu bemo dahulu. Karena yang datang baru satu bemo, maka murid-murid SD Muhammadiyah 1 Denpasar ke sekolahnya dahulu. Aku, Nurul, Robby, Akbar, dan guru-guru SD Muhammadiyah 1 Denpasar segera naik ke dalam bemo.
Dalam bemo, kami semua terdiam. Membayangkan kota metropolitan yang ramai, istananya, monas, atau lain sebagainya.
30 Menit kemudian, kami telah sampai di SD Muhammadiyah 1 Denpasar yang tercinta ini. Kami berempat telah dijemput orang tua masing-masing. Aku dijemput oleh mama, Ira, dan mbak pembantu.
Setelah mama berbincang-bincang sebentar dengan Pak Sugito, kami semua pun pulang. Dalam perjalanan pulang aku berkata dalam hati, I love Jakarta.

Begitulah perjalanan Elsa. Wassalamu'alaikum.... ^^)/

Label: , , ,


Olimpiade di Jakarta part V

Halo halo Bali (?) Sudah siap dengan lanjutan cerbung Elsa? Ini dia, satu..., dua..., ti..., GA

Hah! Aku terbangun dari mimpiku. Kulihat Nurul masih duduk di ranjang bagian tengah, sementara aku masih dalam posisi tertidur.
“Ayo, sholat shubuh dulu,” Ujar Bu Fitri.
Kami mengangguk, kemudian mengambil air wudhu, mukena, dan sholat shubuh. Setelah itu kami mandi, sarapan, dan menunggu mobil. Karena babak final untuk semua bidang akan dimulai, maka Nurul, Akbar, dan teman-teman lain yang masuk babak final diantar duluan.
Setelah pengantaran para finalis, kami pun diantar untuk menunggu finalis-finalis tadi selesai bertanding. Karena tempat antara final setiap lomba berbeda, maka sebagian guru menunggu di suatu tempat. Sementara sebagian lainnya di tempat lainnya.
Kalau para murid yang tidak masuk final menunggunya di SMA Muhammadiyah yang berada di sebelah lokasi lomba penyisihan kemarin. Kami menunggu para finalis sambil bermain, membeli makanan, minuman, atau gantungan kunci.
Kulihat di sebelahku, ada Latifa! Kemudian aku memiliki ide. Aku mengambil kamera bapakku yang berada dalam tas kecilku. Setelah itu, aku menggenggamnya. Aku bertanya kepada Latifa.
“Latifa, dimana kamu membeli soda itu?” Tanyaku sambil menunjuk soda yang digenggamnya.
“ Soda ini di belikan i …,” Latifa yang belum selesai menjawab terhenti karena aku menjepretnya.
Latifa masih berbicara
“Akhirnya aku berhasil menjepretmu,” Seruku. Tetapi Latifa tidak berkutik. Dia sibuk menghabiskan  sodanya.
Setelah itu, aku kembali menyimpan kamera dan melihat mahasiswa-mahasiswa Muhammadiyah melakukan suatu percobaan. Di percobaan itu ada hamsternya, lho. Entah percobaan apa yang akan mereka lakukan karena aku memang berada di luar ruangan.
Setelah para finalis sudah selesai berlomba, kami pun menuju Jakarta Pusat. Para guru berjanji kepada kami agar bisa berjalan-jalan sebentar sebelum check-in. Kami akan ke monumen nasional (Monas). Karena aku mulai lelah, aku pun tertidur.
“Ng?” Aku terbangun dari tidur lelapku.
Sebelum jalan-jalan, Nurul dan Rizal Jappa bercanda dulu. Cieee.... ><
Kami sudah berada di Jakarta Pusat! Kulihat monas berada di tengah-tengah kepadatan kota.  Tak beberapa lama, ada sebuah bangunan nan megah terpajang di jendela yang berada di sebelah kananku. Itulah istana presiden!
“Eh, coba lihat, deh. Ada istana presiden, lho,” Seruku sambil menunjuk-nunjuk kaca jendela.
Semua teman-temanku yang kecil, besar, perempuan, maupun laki-laki langsung melihat ke sebelah kanan. Aku memerhatikan taman istana yang luas, hijau, dan bersih itu. Aku juga melihat penjaga-penjaga istana presiden. Mobil yang kami tumpangi mempercepat lajurnya. Maka kami pun mengatakan ‘dadaah’ dahulu kepada istana presiden yang kami lewati.
Tak lama kemudian, kami sampai di …. Eh, ini, sih bukan monas! Tapi Masjid. Rupanya kami sholat asar dulu di Masjid Istiqlal. Yah, enggak apa-apa, lah. Biar nanti kita dapat bermain dengan puas di areal monas.
Setelah sholat asar, kami ke monas. Yeay! Pertama, kami akan makan siang dahulu. Makan siang kali ini bisa dipilih antara bakso dengan mi ayam. Aku memilih mi ayam.
Aku makan sambil mengobrol dengan beberapa teman dari SD Muhammadiyah lainnya. Ada Latifa, Rizal Java, dan lainnya. Kami mengobrol tentang kesan dan pesan saat di jakarta ini, peristiwa-peristiwa saat lomba, bahkan rasa makanan masing-masing pun kita jadikan bahan obrolan. Hahaha ….
Setelah makan, kami membeli oleh-oleh. Aku membeli pulpen berbentuk monas, gantungan kunci monas untuk Amel, pulpen untuk Mahesa dan Indah (teman sebangku Nurma), dan gantungan kunci berbentuk angry birds untuk  Nurma. Jika tidak kubelikan oleh-oleh, maka Nurma akan meledak alias marah besar, lho. Hihihi ….
Setelah kami membeli oleh-oleh, kami pun melanjutkan perjalanan. Inilah destinasi terakhir kita di Jakarta ini, Bandar Udara Soekarno-Hatta.
 BERSAMBUNG....

Label: , , ,


Olimpiade di Jakarta part IV

Beberapa jam sudah berlalu. Tes penyisihan telah selesai. Kami semua menunggu di lantai dasar untuk menunggu hasilnya. Karena cuacanya benar-benar panas meskipun kami berada di tempat yang teduh, maka aku dan Nurul memutuskan untuk membeli minuman segar.
“Nurul, mau beli apa?” Tanyaku.
 “Es teh satu,” Pesan Nurul. “Kalau kamu?” Nurul balik bertanya kepadaku. Aku berpikir sebentar.
“Susu cokelat dingin satu,” Pesanku kepada sang penjual.
Tak lama kemudian, penjual tadi memberikan kami pesanan yang telah kami pesan. Kami meminumnya di kursi-kursi yang disediakan di depan panggung sambil bercakap-cakap.
Setelah cukup lelah bercakap-cakap, kami memutuskan untuk berhenti bercakap-cakap. Kami menonton pertunjukkan angklung yang sangat indah oleh siswa-siswi Muhammadiyah 08 Plus Jakarta ini. Aku merekamnya, sementara Nurul tetap meminum minumannya. Kami berdecak kagum melihat mereka bermain angklung. Selain itu, kami juga makin bangga dengan Indonesia.
Setelah acara hiburan telah selesai, tibalah waktunya pengumuman. Aku menyimak-nyimak pemenang untuk olimpiade komputer. Sayangnya tiada namaku atau mungkin nomor pesertaku disana.
“Yang penting sudah berusaha,” Ujar Bu Fitri sambil menepuk pundakku.
Tibalah saatnya pengumuman pemenang lomba english dan matematika. Aku begitu senang karena Nurul dan Akbar bisa lolos seleksi. Yah, apa boleh buat. Mungkin suatu saat, aku harus lebih banyak berjuang dan belajar.
Malamnya, Nurul dan Akbar latihan untuk lomba besok. Aku kesepian karena sendirian di kamar ini. Bu Fitri menemui saudaranya. Kalau main netbook, sedang dipinjam oleh seorang siswa SD Muhammadiyah 2 untuk ikut babak final esok harinya.
“Uh, sebal,” Bisikku sambil mengunyah sebuah pizza. Aku masih memakan beberapa sisa pizza sambil menonton acara pencarian bakat di sebuah stasiun televisi.
Tok … tok ….
Terdengar bunyi ketukan pintu. Aku membukanya. Ternyata itu Nurul! Nurul sudah selesai belajar. Aku baru saja ingin berbincang-bincang dengannya. Tetapi … dia malah ganti baju piyama dan tidur.
Hehehe … mungkin kamu lelah, ya, Nur? Tanyaku dalam hati sambil memandangi dirinya yang tertidur pulas.
Tilililit!
Ada SMS masuk dari  HP-ku! Aku segera membacanya. Ternyata itu Om Wedi. Di HP tertulis, Om Wedi sudah sampai di lobby hotel. Aku pun segera menghampiri Om Wedi yang berada di lobby.
Di Lobby….
“Assalamu’alaikum, om. Ada apa?” Tanyaku.
“Wa’alaikumussalam, Salsa. Ini, om bawakan camilan,” Ujar Om Wedi.
Karena aku sudah mulai mengantuk, maka aku segera membawa camilan-camilan tadi untuk dimakan di kamar. Tak lupa mengucapkan terima kasih kepada Om Wedi.

Sambil menunggu Bu Fitri kembali, aku memakan hot dog pemberian Om Wedi. Setengah jam kemudian, Bu Fitri kembali. Dalam waktu bersamaan, hot dog-ku juga habis. Maka aku bersama Bu Fitri pun mulai tidur.

BERSAMBUNG....

Label: , , ,


Olimpiade di Jakarta part III

Halo, semuanya. Maaf, ya, Elsa enggak pernah online. Soalnya laptop hanya boleh kumainkan saat weekend. Oke, kelanjutan ceritanya....



5 Menit kemudian ….
“Hoak, aku kenyang …,” Ujar Nurul lemas. “El, makanlah bagianku,” celoteh Nurul. Aku memandangi ayam Nurul yang tersisa sedikit.
“Enggak, aku juga kenyang,” Jawabku sambil menyeruput es teh. “Aku cuci tangan dulu, ya. Kalau kalian sudah kenyang habiskan es tehnya.” Ucapku sambil bangkit, kemudian menuju sebuah washtafel.
Setelah mencuci tangan, aku melihat mejaku sudah kosong tak berpenduduk. Maka aku ke halaman depan untuk mencari mereka berempat. Di halaman depan, aku melihat Akbar dan Robby bermain game di HP. Maka aku menonton mereka bermain game dari samping.
Begitu Bu Fitri selesai membayar, kami kembali ke mobil masing-masing lalu melanjutkan perjalanan menuju Hotel.
“Eh, Latifa, coba deh lihat,” Aku menyodorkan hasil jepretanku kepada Latifa. Latifa menutup mukanya dengan cara menunduk di meja.
“Aduuh, Elsa …,” Latifa menyambar kamera kemudian menghapusnya. Aku hanya tertawa terpingkal-pingkal.
Aku dan Nurul di Hotel
Setelah Latifa mengembalikan kamera, aku menyimpannya kembali ke dalam tas. Aku melihat pemandangan di luar dari kaca. Alhamdulillah, kami semua sampai di hotel. Meskipun harus tersesat di timur kota metropolitan ini.
Bruugh!
Aku membanting diriku di kasur yang empuk ini. Kasur yang berada di sebuah ruangan hotel ini benar-benar empuk. Rasanya seperti tertidur di awan. Hmm ….
Tok, tok, tok …. Terdengar suara ketukan pintu.
“Elsa, tolong dibuka,” Ujar Nurul sambil membuka kopernya. Dia berniat sholat, kemudian mengganti baju menjadi piyama.
Aku pun menuruti suruhan Nurul kubuka pintu itu. Ternyata itu adalah ….
“Tante Angel!” Seruku. Tante Angel dan temannya, Om Wedi membawakan kami sekotak pizza. Betapa senangnya kami.
Tante Angel merupakan adik mama. Beliau bekerja sebagai dokter di Jakarta Pusat. Wah, wah, maaf merepotkan, ya, tante ….
Setelah itu, Tante Angel dan Om Wedi berbicara sebentar dengan Bu Fitri dan Pak Sugito. Sementara aku dan Nurul bersiap-siap untuk mandi, sholat, makan pizza, dan tidur. Tak lupa belajar dulu sebelum tidur. Kami akan lomba besok.
Hari minggu, hari olimpiade! Aku terbangun dari mimpi indahku. Segeralah aku sholat, berpakaian, menyiapkan barang-barang yang menurutku perlu dibawa, sarapan, dan berangkat. Aku harus menyiapkan ini semua faster than light!
“Ya ampuuun … Elsa! Kamu cepat banget makannya,” Seru Nurul sambil melahap nasi goreng. Aku hanya terkikik.
Maka sambil menunggu Nurul aku menunggu di halaman depan hotel sambil melihat pemandangan yang ada. Di sisi lain, aku juga berusaha mencari ide cerpen dengan mengamati sekitar. Untungnya, hotelnya kecil dan hanya berlantai tiga. Jadi, Nurul tidak perlu repot mencariku.
Beberapa menit kemudian, semua murid dan guru sudah menunggu di halaman depan. Begitu juga kedua mobil pengantar kami yang sudah siap mengantar kami semua. So, let’s go!
Sudah sampai ^o^)/
Akhirnya, kami sudah sampai di lokasi perlombaan, SD Muhammadiyah 08 Plus Jakarta.  Kami segera turun, kemudian mencari nomor peserta masing-masing. Singkat saja, aku yang mengikuti komputer mendapat nomor peserta E 456. Hehehe … gampang diingat, ya.
Setelah mengetahui nomor peserta masing-masing, kami diberi kalung pengenal, mengisi nama dan nomor peserta, kemudian di beri parfum. Lho? Kok parfum, El? Ya iyalah. Jakarta kan panas, jadi dapat menyebabkan bau keringat. Kalau nanti peserta-pesertanya pingsan gimana? Hehehe….
Pak Prof. Dr. Dien Syamsuddin sedang berpidato.
Setelah acara pembukaan, pembacaan ayat suci al-qur’an, dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, ada seorang yang benar-benar istimewa. Dia adalah … Prof. Dr. Dien Syamsuddin, ketua Muhammadiyah se-Indonesia. Katanya, dari tiap sekolah harus ada seseorang untuk memperkenalkan dirinya dan sekolahnya.
“Ada yang mau?” Tanya Bu Fitri sambil menoleh kearah kami berempat.
Sret! Akbar, Robby, dan Nurul menunjukku seketika.
“Lho, kok aku?” Seruku.
“Kan kamu orangnya percaya diri, El,” Jelas Nurul. Tanpa pikir panjang, aku maju ke depan sambil memikirkan cerita Surat Misterius buatanku. Karena aku lumayan tinggi, maka aku berada di tengah.
Jadi, nanti mike-nya akan dioper dulu. Terus, kita menyebutkan nama, kelas, dan SD Muhammadiyah kita. Setelah selesai, kita oper kembali ke teman sebelah kita. Begitu juga seterusnya. Dari semua orang yang ada di panggung, tidak sedikit juga yang menambahkan kata ‘horas’ atau yang semacamnya.
Setelah itu, kami kembali turun ke panggung. Tidak lupa bersalaman dengan Bapak Dokter Dien Syamsuddin. Rasanya senang sekali bisa bersalaman dengan seseorang yang menjadi ketua Muhammadiyah Indonesia.
Setelah itu, sang ketua Muhammadiyah Indonesia memotong sebuah tali dengan spanduk di atasnya. Tali itu akan dipotong. Setelah dipotong, maka gulungan spanduk tadi akan terjatuh, dan terdapat tulisan ‘Selamat berlomba’. Itulah tanda pembukaan olimpiade ESMIC.
Setelah itu, kami langsung menuju ruang olimpiade kami. Aku mulai masuk bersama beberapa murid lainnya dari nusantara yang luas ini. Kami segera mengambil tempat duduk sesuai urutan nomor. Kemudian, kami dibagikan soal-soal beserta lembar jawabannya. Kami diperbolehkan mengisinya saat sudah berbunyi bel.
Teeet!

Wah, bel sudah berbunyi! Seruku dalam hati. Aku segera mengambil napas panjang, kemudian mengisi lembar jawaban sesuai soal-soal yang ada.

BERSAMBUNG....

Label: , , ,


Olimpiade di Jakarta part II

Sudah baca part I? Sekarang Part II.

“Oke, El. Siapa takut,” Ujar Nurul mengikutiku. Kami menaiki sebuah pesawat, disambut pramugari-pramugarinya, kemudian mencari tempat duduk.
“Ya ampun,” Gunamku. Ternyata aku duduk diantara dua murid laki-laki dari SD Muhammadiyah 2 Denpasar!
“El, ada apa?” Tanya Pak Gito. Pak Gito adalah nama kecil dari Pak Sugito.
“Pak, saya mau pindah duduk. Saya tidak mau duduk diantara anak laki-laki,” Ujarku.
Alhamdulillah, akhirnya aku bisa bertukar tempat duduk dengan seorang murid laki-laki. Maka, aku duduk di antara Pak Gito dan seorang murid perempuan dari SD Muhammadiyah 2 Denpasar. Entahlah siapa namanya, Elsa sudah lupa.
Pesawat mulai take-off (berangkat). Sambil mengencangkan sabuk pengaman, aku bersama temanku itu mengobrol sebentar, kemudian temanku tadi tertidur. Begitu pula dengan Pak Gito. Oh, ya, perjalanan dari Denpasar ke Jakarta itu membutuhkan waktu 2 jam. Sambil menunggu, aku bernyanyi dalam hati.
Pesawat berangkat jam 17.00 WITA, maka waktu kami sampai di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta kira-kira 18.00 WIB. Kami menuju tempat penjemputan. Kami semua akan diantar oleh anak dari Bu Fitri dan kerabat dari salah satu guru dari SD Muhammadiyah yang lain.
Pertama-tama, kami ke Jakarta Timur dahulu. Kemudian kami mencari tempat makan yang cocok. Pilihan jatuh kepada sebuah rumah makan yang menyediakan lalapan.
Masing-masing murid mengorder segelas es teh. Begitu pula diriku. Tetapi begitu dicoba, es teh milik ketiga temanku dari SD Muhammadiyah 2 (lagi-lagi lupa namanya, nih. Tetapi Elsa ingat salah nama salah satu dari mereka, yaitu Latifa) tidak manis alias tawar. Makanya, mereka memintaku untuk meminta gula.
“Ayo, dong, El. Bantu mereka,” Nurul mendorong-dorong bahuku.
“Enggak. Kalian saja yang lakukan,” Jawabku cuek sambil membalas SMS dari Tante Angel.
“Yaah … lebih baik kamu, El. Kan kamu berani,” Nurul mendorong-dorong bahuku lebih keras. Tetapi aku terdiam sambil tetap membalas SMS Tante Angel. Dan akhirnya aku jera juga, deh.
“Ya sudah,” Aku mengirim pesan kemudian memasukkan kembali HP-nya ke dalam tas. Aku berjalan menuju dapur.
“Permisi, bu …,” Aku masuk ke dalam dapur. Disana ada seorang ibu-ibu membakar lalapan kami.
“Iya, ada apa, mbak?” Tanya ibu itu sambil menoleh kearahku.
“M … mau minta gula sedikit, bu,” Jawabku. Kemudian ibu itu memberikanku sebuah toples berisi gula. Aku segera berterima kasih, kemudian berlari kecil menuju teman-temanku tadi.
“Mana gulanya?” Nurul menagih gula dengan suara serak. Mendekati suara preman. Hahaha ….
“Nih,” Aku menyodorkan toples berisi gula tadi kepada Nurul.
Nurul menaruhnya di meja, membukanya, kemudian diserbu oleh ketiga anak tadi. Karena menurutku lucu karena tangan mereka tersangkut di dalam toples, maka aku segera mengambil kamera milik bapak dari dalam tas, dan memotretnya. Tetapi, Latifa sangat pemalu. Sehingga dia segera menutup wajahnya. Jadi, hasilnya jelek, deh.
“Nurul, lihat kesini,” Sahutku kepada Nurul yang berada di depanku. Kemudian aku menjepretnya.
Nurul yang kufoto.
“Elsa nakal!” Seru Nurul sambil mengambil Blackberry-nya. Akhirnya kami bertanding foto bersama. Aku berhasil mendapatkan foto Nurul, begitu juga Nurul yang menjepretku.
“Ini dia nasi lalapannya,” Ibu penjual menyodorkan lima piring ayam lalapan beserta sambal, nasi, dan sayur mayurnya.
Kemudian ibu penjual tadi mengambil toples gula setelah kami menyatakan bahwa kami sudah menambahkannya ke dalam teh kami. Kami berdo’a bersama, kemudian makan serakus-rakusnya.

Bersambung....

Label: , , ,


Olimpiade di Jakarta part I

Halo semuanyaaaa! Gimana, nih kabar kalian? Maaf, ya, Elsa jarang post di Blog. Gara modem habis, nih. Jadi, sebagai permintaan maaf, Elsa akan memberi kalian... CERBUNG. Oke, deh, langsung aja, yaaa....


 Setelah masuk kelas V D, aku memiliki jadwal yang benar-benar padat. Itu karena Pak Sugito selalu mewakiliku untuk beberapa olimpiade. Diantaranya matematika, komputer, bahasa inggris, dan melukis.
Salah satu olimpiade yang paling berkesan bagiku adalah saat olimpiade di Jakarta. Olimpiadenya bernama ‘English, Science, Math, ISMUBA, and Computer (ESMIC)’ . Itu adalah olimpiade sekolah-sekolah Muhammadiyah se-Indonesia. Aku akan mengikuti lomba komputer.
Perjalanan olimpiade kami benar-benar seru. Kami bertemu dan berkenalan dengan teman-teman nusantara, belajar bersama, sampai bertemu artis saat kami balik lagi ke Bali. Wah, wah … siapa, ya? Makanya, ayo kita baca!
Sore itu, kami berkumpul di SD Muhammadiyah 1 Denpasar, sekolah. Kami akan diabsen lebih dahulu. Selain murid dari SD Muhammadiyah 1, ada juga SD Muhammadiyah 2, SD Muhammadiyah 3, dan SD Muhammadiyah 4.
“Baik, semuanya sudah. Kita bisa berangkat, pak,” Ujar Bu Fitri, guru budi pekerti kepada Kepsek SD Muhammadiyah 1 Denpasar, Pak Choliludin.
“Baik, anak-anak. Kita naik bemo, tetapi harus beris yang tertib dan menyeberang dulu, ya,” Pinta Pak Choliludin.
“Baik, pak,” Jawab kami semua. Setelah itu kami menyeberang, kemudian menaiki bemo.
“Dadaaah!” Kami melambaikan tangan kepada orang tua kami.
“El, kamu punya keluarga enggak di Jakarta?” Tanya Nurul. Masih ingat Nurul, kan? Yap, si ‘peringkat satu’ saat penyisihan kelas.
“Ada. Tante Angel, Om Wedi, terus … keluarga dari sepupuku, Alia,” Jawabku. Hihihi … namanya sama dengan adikku, ya.
“Oh …,” Nurul ber-oh saja. Kemudian, kami tidak bercakap-cakap lagi. Aku sibuk SMS-an dengan Tsamara. Nurul melihat pemandangan sambil memakan snack-nya.
Di Kuta ….
“Kok, aku merasa dari tadi kita tidak berjalan, ya?” Tanyaku.
“Kita kena macet, El.” Jelas Pak Sugito yang berada di sebelahku.
“Kalau kita terlambat check in bagaimana?” Sahut Nurul khawatir. Aku menatap jam.
“Tidak apa-apa, Nurul. Check in itu paling lambat 30 menit,” Ujarku menenangkan. Beberapa menit kemudian, akhirnya kami bebas dari ‘samudera klakson, asap, mobil, dan motor’.
“Fiuh, akhirnya enggak kena lagi deh,” Nurul melepaskan napas lega. Aku mengangguk, kemudian meminta izin untuk meminta keripik singkongnya. Nurul mengiyakan.
Beberapa menit kemudian ….
“Nurul, lihatlah! Kita sudah sampai,” Sahutku sambil menjulurkan leherku. “Kita sudah sampai di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai!”
“Iya!” Sahut Nurul sambil melihat pemandangan di kaca sebelahnya. Segeralah kami turun dari bemo, check in, kemudian menunggu pesawat.
“Nurul, kita membaca buku dulu, yuk,” Ajakku kepada Nurul sambil menunggu pesawat.
“Ayo,” Jawab Nurul. Aku dan Nurul mengambil buku sesuai bidang lomba kami di dalam koper. Kata Pak Sugito, lebih aman dibawa saja. Karena aku memang membawa netbook.
O, ya, Nurul itu mengikuti lomba matematika. Selain kami berdua, ada dua anak juga yang mewakili SD Muhammadiyah 1 Denpasar. Yaitu Robby di Sains, dan Akbar di English.
“Anak-anak, pesawatnya sudah sampai,” Sahut seorang guru dari SD Muhammadiyah 2 Denpasar. Kami segera bersiap-siap kemudian berbaris. Guru tadi memberikan tiket-tiket pesawat kepada kami.
“Ayo, Nurul. Let’s go!” Sahutku kepada Nurul yang di belakangku sambil menarik koperku.

Bersambung....

Label: , ,


My Secret than can make you gasp

Assalamu'alaikum, bloggers. Hari ini... malam minggu, ya? Daripada malam-malam nonton yang negatif-negatif, coba, deh baca post Elsa kali ini. Sesuai judulnya, ada sebuah rahasia Elsa yang mungkin agak (atau mungkin lebih) mengejutkan bagi kalian. Apakah itu?

Kenapa kamu benci KKPK?
Saat Elsa masih kelas III, Elsa.... ya ampun, kasih tahu gak ya? Saat Elsa masih kelas III, Elsa itu benci benget sama yang namanya KKPK(Kecil-Kecil Punya Karya).
Lho, lho? Kenapa Elsa benci KKPK?
 Alasannya cukup sepele, lho. Alasannya adalah... Saat itu, teman-teman Elsa suka membawa dan membaca KKPK setiap hari. Bahkan, saat sholat jum'at. Mereka malah asyik-asyiknya membaca KKPK, sementara Elsa menjulurkan leher dengan susah payah hanya untuk mendengar khutbah dengan lebih keras dan jelas.

Kalau Elsa benci KKPK, kenapa bisa menjadi penulisnya?
Karena Elsa mau mengharumkan nama baik sekolah(Hanya itu saja alasannya). Jalan pintas untuk melakukannya hanyalah ikut menjadi penulisnya. Ide membuat cerita pun terbenak saat Elsa masih kelas IV.
Dan alhamdullillah, itu sudah terwujud. Elsa juga makin suka sama KKPK. Dan makin banyak adik-adik kelas yang kenal Elsa. Bahkan ramadhan lalu, saat Elsa memberi-beri buku kepada beberapa teman Elsa, adik-adik kelas melihatnya dan juga ingin minta. Langsung saja, deh, Elsa lari diikuti oleh adik-adik kelas. Akhirnya, kami berlari keliling sekolah (-_-#)

Label: , ,