
|
Elsa ![]() Bigfoots! ![]() Credits! ![]()
| Di Balik Penulisan KKJD Misteri Koper Detektif Assalamu'alaikum.... Halo, kawan-kawan! Kali ini, Elsa mau posting lagi tentang fakta dan peristiwa di balik KKJD Misteri Koper Detektif: Menguak Pencurian Aneh, yang mana merupakan buku keempat Elsa. Yuk, kita simak, daripada keponya ditahan-tahan. Mweheh...
2. Elsa, halamannya masih kurang! Tak lama setelah menerima SPP (Surat Perjanjian Penerbitan), aku di FB sama Kak A (nama samaran). Beliau bilang halamannya masih kurang, dan harus ditambah lagi. Aku pun berpikir, gimana cara nambahnya? Dan tahu, enggak? Saking seriusnya mikir, aku ditegur temanku gara-gara kotak bekalku kebuka, sementara aku melamun gitu aja di depannya! Hahahaha.... :D Dan setelah berpikir matang dan sedikit gosong(?), aku berhasil menambahkan halamannya, dengan menambah sebuah bab berjudul Ulang Tahun Detective Club. Yeaaay! '-')/ 3. Si Lima Sekawan Kelima sekawan-Widya, Indy, Pasha, Raditya, dan Kak Sherry- adalah tokoh yang mewakilkan aku dan kelima sahabatku, lho. Aku sebagai Widya, karena mereka gak mau jadi tokoh utamanya '-' Amel sebagai Indy, karena dia sahabat setia :) Wahyu sebagai Pasha, karena sesama gemuk dan bersahabat dengan Dika sebagai Raditya. Terakhir, Indry sebagai Kak Sherry, karena dia tertua dan terpintar diantara kami. Jujur, aku suka Raditya dibanding Widya. Alasannya? Rahasia :P 4. Lapangan Puputan Di cerita KKJD-ku, ada yang namanya Lapangan Puputan. Lapangan Puputan ini adalah lapangan yang berada di jantung Kota Denpasar. Kenapa aku memakai tempat ini? Karena Lapangan Puputan ini termasuk lapangan yang bersejarah dalam masa SD-ku. Ketika aku kelas 5 dan kelas 6, aku dan teman-temanku olahraganya disini, karena sekolahku itu sempit lapangannya. Saat pertama kalinya aku ke Lapangan Puputan, kelas 5D, aku pernah kejeduk tiang listriknya :v 5. Belum Selesai! Sekarang ini, aku sedang menggarap lanjutan dari KKJD ini. Cerita tentang Widya, Indy, Pasha, Raditya, dan Kak Sherry belum berhenti. Kisah ini seru, lho! Lebih banyak teka-teki, kejutan, dan lain-lain. Yah, doakan saja cepat selesai, ya. Amiiin.... Wassalamu'alaikum.... Label: karya, KKJD, sekolah, teman, tulis menulis Hari Terakhirku di SD
[DEAR DIARY]
Hari ini, hari pengumuman USM sekaligus hari terakhirku disini, di Sekolah Dasar. Aku sempat was-was, karena katanya, ada 4 orang yang tidak lulus, 2 cewek, 2 cowok. Meski aku cukup pintar di sekolah, aku was-was. Bagaimana kalau LJK-ku memanglah lecek, tak terbaca komputer, dan... DAPAT NILAI 50?
Jam 10.00 WITA, kami disuruh turun untuk mendengarkan pengumuman kelulusan. Pertama-tama, diumumkan orang dengan nilai terbaik di sekolah. Mereka adalah: Fauzi(rank 1), Ersela dan Indri(keduanya rank 2 karena nilai yang kembar), dan Yusron(rank 4, rank 3 ditiadakan). Setelah itu..., diumumkan siapa yang tidak lulus.
"Dan yang tidak lulus adalaaaah...,"
Jangan janganlah aku, Ya Allah ><
"SELAMAT, SEMUA LULUS ^^"
Apa? Semua lulus? Alhamdulillah, Ya Allaaah ^^-
Setelah itu, aku, Indri, dan Nisa naik ke atas untuk menuju kelas kami. Katanya, mau ada pemberitahuan nilai.
"Alhamdulillah banget, ya, kita lulus," Ujarku sambil menaiki tangga.
"Iya. Eh, tapi kok kata gurunya ada yang enggak lulus tadi?" Tanya Indri masih penasaran.
"Jangan-jangan...," Aku mulai berimajinasi. "Guru-guru pada bohong. Coba ingat, tadi yang enggak lulus katanya 2 cowok dan 2 cewek, dan yang paling bagus nilainya 2 cowok dan 2 cewek. Berarti bohong, atuh,"
"Iya, ya," Gunam Nisa dan Indri mengiyakan.
Setelah evaluasi sedikit di kelas, kami melihat nilai-nilai kami. Kulihat, nilai total 5 mapel adalah 43, 40. Tapi, kalau 3 mapel... 27, 00.
Aku langsung terjatuh. Tangan kananku menyentuh ubin, sementara tangan kiriku yang memegang handphone menyentuh dadaku.
"Elsa? Kenapa?" Sahut Indri kaget melihat tingkahku. Aku tertawa cekikikan.
"Elsa kerasukan, ya?" Tanya Nisa dan Tria, ikut kaget. Lalu, aku segera melompat dengan riang. Air mata membanjiri kedua mataku.
"Elsaaa.... Kamu kenapa, sih?" Tanya Indri.
"Indri...," Aku menghapus air mataku. "Sebelum USM, aku dan mamaku membuat perjanjian, kalau total nilai 3 mapel USM 27 keatas, aku bakal dibelikan seratus bukuuu ^^" Sahutku senang. Bibir Nisa, Indri, dan Tria membulat.
Bu Endah, wali kelasku sudah di ruang guru. Tria dan teman-teman lain juga sudah ke lantai bawah. Tinggallah aku, Dika, Wahyu, Indri, dan Anisa di kelas. Kita masih cekikikan di kelas.
"Eh, foto bareng, yuk. Ini kan hari terakhir kita disini ^^" Ajak Dika sambil memperpanjang tongsis miliknya. Kami mengiyakan.
Kami berfoto bersama sebanyak-banyaknya. Lalu, aku ingat kalau mamaku akan mengajakku belanja untuk kebutuhanku di Ponpes nanti. Jadi, saat Wahyu akan menjepret, aku berteriak untuk cabut duluan. Begitu tahu, aku langsung disusul Wahyu, Indri, lalu Nisa. Baru kuketahui, Dika yang sadar dia adalah manusia satu-satunya di kelas, langsung teriak, "TUNGGUUUU" :v
Aku mencari mamaku. Rupanya, mamaku sedang berada di ruang TU, mengurus surat-surat untuk dokumen ponpes. Aku merengek-rengek untuk segera ke toko buku. Aku sudah tak sabar lagi, ingin segera kesana.
Sesampainya di mobil, mama menyuruhku memberikan kado untuk Bu Endah. Akhirnya, aku terpaksa naik lagi, deh. Alhamdulillah, Bu Endah menyukai kado itu. Setelah itu, mamaku mulai 'berburu' barang kebutuhanku di ponpes.
Malam harinya, aku meminta Dika untuk mengirimiku foto saat kita narsis bareng tadi. Beberapa menit kemudian, Dika mengirimiku keenam belas foto yang berhasil dia jepret. Aku tersentuh ketika melihat foto pertama:
Tak terasa, air mataku jatuh. Cengeng sekali aku, belum satu hari aku lulus sudah menangis duluan. Aku menghapus air mataku sambil memperhatikan foto itu kembali. Itulah saat-saat terakhir kita tertawa dan berfoto bersama. Jika suatu hari nanti kita berkumpul bersama, aku akan meminta pada Allah untuk jangan pernah membiarkan mereka pergi. Biarkanlah kita seperti ini sampai dewasa. Biarkanlah mereka disampingku, menjadi sahabatku, menjadi orang yang selalu menemani, menerimaku, dan mewarnai hari-hariku. Masa-masa bersama mereka-lah yang tidak dapat kulupakan apalagi kutinggalkan di ujung SD ini. Sudah Bulat Keputusanku
[DEAR DIARY]
Kemarin, aku dapat SMS dari mamaku. Katanya, dia telah meng-SMS seorang guru musik di sekolahku. Katanya, aku nyanyi A Thousand Years aja. Meski sudah ada yang biola, tidak apa. Hari ini, gladi resik. Aku akan latihan menyanyi di sekolah dilihat oleh semua guru dan murid kelas VI. Do'akan aku bisa tampil maksimal, ya. Really?
[DEAR DIARY]
Tadi, kami melihat penampilan dari masing-masing kelas. Ternyata, A Thousand Years sudah dibawakan oleh anak kelas V. Tapi dia enggak nyanyi, dia main biola. Aku yang tahu langsung keep calm sambil membatin, enggak apa, El. Kan masih ada Let It Go sebagai lagu cadangan. Dan ternyata, Let It Go dinyanyikan oleh adik kelas I. Aku sudah putus asa. Aku sudah berlatih menyanyikan kedua lagu itu sejak Januari lalu. Tapi, kenapa....
Hari-hari Saat USM (D2 dan D3) Hari Selasa, mapel hari ini matik. Aku sudah mengeluarkan keringat dingin, takut nilai mapelku jelek atau soalnya susah. Tadi malem mulutku komat kamit ngapalin rumus matematika. Entah kenapa, hari ini, aku pengin banget nulis. Kalau gini, sih, namanya udah kebelet nulis. Aku harus segera mengeluarkan kebeletku ini. Kalau enggak, semangat buat nulis ini bakal menghilang entah kemana. Kayak katanya si Elsa Frozen, Let It Go. Sampe rumah, ganti baju, terus liat kotak surat(tapi gaada surat baru), terus intropeksi lemari bapak. Siapa tahu ada laptop putihnya. Tapi hasilnya? Gaada -_- ~Tanggal 14 Hari Rabu, mapel kali ini IPA. Besok libur, yeaaah ^o^)/ Tapi..., aku punya firasat kalau ada yang mencontek. Yaitu temenku, S. Aku pernah liat dia ngelirik LJK ku saat Pemantapan. Aku pun menjaga LJK ku baik-baik agar jangan dicontek dan lecek. Karena belum dijemput, aku ngobrol sama temenku, I dan A. Lalu, aku ngelihat orang yang kusuka, D, ketawa sama S. APA? MUSUHKU BERSAHABAT SAMA ORANG YANG KUSUKA? AAAA I'll be twelve [DEAR DIARY] Sebentar lagi, aku ulang tahun yang ke-12. Bukannya senang, aku malah sedih. Soalnya..., masaku untuk menulis KKPK tinggal setahun saja. Terus, besoknya, tanggal 2 Maret, ada Islamic Book Fair di Bandung. Disana, bakalan ada Sri Izzati, dan talkshow tentang KKPK. Belum lagi, tanggal 3-6 aku Pemantapan Sekolah. Haah.... I hate when I was Twelve. Label: diary, KKPK, sekolah, teman From Hero to Zero [DEAR DIARY] It's the baddest day ever. Ya, paling tidak itulah kata yang paling tepat untuk hari sabtu ini. Soalnya, berdasarkan tes Try out kedua, aku mendapat ranking ke-139. Sementara murid kelas VI ada 140. Itu berarti, kedua dari bawah. Padahal, TO pertama, aku ranking 13, sementara semester pertama ranking 2. Temen-temenku kaget, guru-guru kaget, orangtuaku kaget, kucing di rumah kaget(karena dipukul pake tulang ayam sama aku). Kalian kaget? Soalnya, di hari kedua(Sabtu tgl 15) aku enggak masuk sekolah, karena aku harus tes masuk SMP. Padahal di hari itu juga ada 3 mapel yang lagi diuji(B.Indo, IPS, IPA). Aduuh..., siap-siap sibuk dan jaga stamina, nih. Diwawancara [DEAR DIARY] Hari ini, aku diwawancara di sekolahku. Aku diwawancara oleh majalah pensil(nama samaran). Kata Pak Sugito, aku dipilih untuk diwawancara karena aku memiliki prestasi. Langsung, deh, aku seneng. Rasanya pengin teriak, tapi aku urungkan. Soalnya, kalau aku teriak, pasti para kru dari majalah pensil langsung pingsan dan tidak akan pernah kembali lagi. Label: diary, sekolah, teman, tulis menulis Hiks hiks
Aku sedih banget hari ini. Banget... nget... ngeet. Soalnya, berdasarkan tes Al-Izzah, aku masuk siswa cadangan. Maksudnya, kalau ada siswa yang diterima dan enggak daftar ulang, maka akulah yang menggantikan. Hiks, padahal..., ada Tsamara disana. Dan info yang baru kudapat, Izdi juga keterima disana. Diary tahu Kak Retno Pambayun? Itu, tuh, yang nulis KKPK Smart Melly, dan PBC Changes. Dia sekolah disana juga. Huuh.... Nye-sek-to-tal deach.
Yang baca post ini berarti sudah ikutan do'a lhooo. I wish.... [DEAR DIARY]
Haah..., gak kerasa, ya, kita sudah memasuki tahun 2014. Aku memiliki keinginan untuk tahun yang baru ini. Yaitu:
Yang baca berarti mendoakan Elsa dan dirinya sendiri.
Label: diary, sekolah, teman, tulis menulis KPCI [DEAR DIARY] Haah.... Gak kerasa banget, ya, KPCI 2013 sudah selesai sejak sebulan silam. Aku sangat kangen dengan teman-teman KPCI. Terutama Sara (Elsa, Rafid) dan Geng Jahil (Elsa, Meiza, Hafidzoh, Yasmin, dan Aning). Mereka yang selalu bikin aku senang, ceria, dan nyaman di KPCI ini. Rasanya, satu hari di KPCI sama dengan satu minggu :3
Sebulan lalu, 20 November 2013, aku merasa gugup, lho. Soalnya, aku adalah satu-satunya peserta KPCI 2013 yang berasal dari Bali. Aku takut semua peserta KPCI mengejekku. Tetapi, prasangkaku itu salah. Mereka malah baik dan ramah kepadaku. Terutama wakil-wakil dari Jawa Timur yang selalu menjulukiku Bali. Jadi, kalau manggil aku, mereka selalu bilang, "Bali, sini kamu, Bali," Hahaha....
Sekarang, aku lebih suka teman-teman KPCI daripada teman-teman sekolah. Teman-teman sekolahku selalu mem-bully aku. Hiks....
Label: diary, sekolah, teman, tulis menulis Olimpiade di Jakarta Part VI (tamat)
Di Bandara Soekarno-Hatta ….
Kami menurunkan koper-koper kami dari
dalam mobil. Kami akan menaruh barang-barang ke dalam bagasi. Tetapi tidak
untuk koperku. Saat memasukkan oleh-oleh ke dalam tas. Ada seorang murid dari
SD Muhammadiyah 3 berseru.
“Cherrybelle!” Seru anak itu.
Aku segera menutup resleting koper,
dan melihat orang-orang yang ditunjuk anak itu. Ternyata benar, itu
cherrybelle!
“Ayo, anak-anak. Kita naik dan check in,” Ujar Pak Choliluddin. Kami
pun mengangguk dan segera naik untuk check in. Sebenarnya, sih, kami tidak
ingin check in. Tetapi bertemu cherrybelle. Hehehe ….
Sambil menunggu tiket, kami bubar
tetapi tidak jauh. Ada yang tetap berbaris dan sabar menunggu, membeli buku
KKPK di sebuah toko buku, atau mungkin menuju sebuah café sambil melihat
cherrybelle di dalamnya.
“El, jepret El,” Bisik Nurul yang
berada di belakangku.
Aku segera mengambil kamera dari
dalam tas. Kemudian menjepret cherrybelle yang tengah menunggu pesanan mereka.
Aku menjepretnya di belakang pohon kecil, jadi enggak ketahuan.
Jepret!
“Sudah,” Bisikku kepada Nurul sambil
berlari mendekati barisan.
Begitu juga dengan beberapa murid
Muhammadiyah Denpasar lainnya yang membututiku. Aku pun menunjukkan foto yang
telah kujepret tadi kepada semua siswa.
Setelah menunjukkan foto, aku menuju
toko buku kecil. Aku ingin membelinya. Sayangnya harganya mahal dan tiketnya
sudah selesai dicetak. Kami pun check in.
Setelah check in, kami menaiki pesawat. Aku berada di tengah-tengah orang
yang mendengarkan mp3 player dan orang yang sedang membaca buku. Maka aku pun membaca
buku itu sambil menunggu sampai di Bali.
Aku tidak terlalu jauh dari pandangan
para guru. Itu karena aku berada di belakang kursinya Pak Choliluddin.
2 Jam kemudian ….
Pesawat sudah sambai di Bandar Udara
Internasional I Gusti Ngurah Rai. Kami pun menunggu bemo dahulu. Karena yang
datang baru satu bemo, maka murid-murid SD Muhammadiyah 1 Denpasar ke
sekolahnya dahulu. Aku, Nurul, Robby, Akbar, dan guru-guru SD Muhammadiyah 1
Denpasar segera naik ke dalam bemo.
Dalam bemo, kami semua terdiam.
Membayangkan kota metropolitan yang ramai, istananya, monas, atau lain
sebagainya.
30 Menit kemudian, kami telah sampai
di SD Muhammadiyah 1 Denpasar yang tercinta ini. Kami berempat telah dijemput
orang tua masing-masing. Aku dijemput oleh mama, Ira, dan mbak pembantu.
Setelah mama berbincang-bincang
sebentar dengan Pak Sugito, kami semua pun pulang. Dalam perjalanan pulang aku
berkata dalam hati, I love Jakarta.
Begitulah perjalanan Elsa. Wassalamu'alaikum.... ^^)/
Label: karya, sekolah, teman, tulis menulis Olimpiade di Jakarta part V Halo halo Bali (?) Sudah siap dengan lanjutan cerbung Elsa? Ini dia, satu..., dua..., ti..., GA
Hah! Aku terbangun dari mimpiku.
Kulihat Nurul masih duduk di ranjang bagian tengah, sementara aku masih dalam
posisi tertidur.
“Ayo, sholat shubuh dulu,” Ujar Bu
Fitri.
Kami mengangguk, kemudian mengambil
air wudhu, mukena, dan sholat shubuh. Setelah itu kami mandi, sarapan, dan
menunggu mobil. Karena babak final untuk semua bidang akan dimulai, maka Nurul,
Akbar, dan teman-teman lain yang masuk babak final diantar duluan.
Setelah pengantaran para finalis,
kami pun diantar untuk menunggu finalis-finalis tadi selesai bertanding. Karena
tempat antara final setiap lomba berbeda, maka sebagian guru menunggu di suatu
tempat. Sementara sebagian lainnya di tempat lainnya.
Kalau para murid yang tidak masuk
final menunggunya di SMA Muhammadiyah yang berada di sebelah lokasi lomba
penyisihan kemarin. Kami menunggu para finalis sambil bermain, membeli makanan,
minuman, atau gantungan kunci.
Kulihat di sebelahku, ada Latifa!
Kemudian aku memiliki ide. Aku mengambil kamera bapakku yang berada dalam tas
kecilku. Setelah itu, aku menggenggamnya. Aku bertanya kepada Latifa.
“Latifa, dimana kamu membeli soda
itu?” Tanyaku sambil menunjuk soda yang digenggamnya.
“ Soda ini di belikan i …,” Latifa yang
belum selesai menjawab terhenti karena aku menjepretnya.
Setelah itu, aku kembali menyimpan
kamera dan melihat mahasiswa-mahasiswa Muhammadiyah melakukan suatu percobaan.
Di percobaan itu ada hamsternya, lho. Entah percobaan apa yang akan mereka
lakukan karena aku memang berada di luar ruangan.
Setelah para finalis sudah selesai
berlomba, kami pun menuju Jakarta Pusat. Para guru berjanji kepada kami agar
bisa berjalan-jalan sebentar sebelum check-in.
Kami akan ke monumen nasional (Monas). Karena aku mulai lelah, aku pun
tertidur.
“Ng?” Aku terbangun dari tidur
lelapku.
“Eh, coba lihat, deh. Ada istana
presiden, lho,” Seruku sambil menunjuk-nunjuk kaca jendela.
Semua teman-temanku yang kecil,
besar, perempuan, maupun laki-laki langsung melihat ke sebelah kanan. Aku
memerhatikan taman istana yang luas, hijau, dan bersih itu. Aku juga melihat
penjaga-penjaga istana presiden. Mobil yang kami tumpangi mempercepat lajurnya.
Maka kami pun mengatakan ‘dadaah’ dahulu kepada istana presiden yang kami
lewati.
Tak lama kemudian, kami sampai di ….
Eh, ini, sih bukan monas! Tapi Masjid. Rupanya kami sholat asar dulu di Masjid
Istiqlal. Yah, enggak apa-apa, lah. Biar nanti kita dapat bermain dengan puas
di areal monas.
Setelah sholat asar, kami ke monas.
Yeay! Pertama, kami akan makan siang dahulu. Makan siang kali ini bisa dipilih
antara bakso dengan mi ayam. Aku memilih mi ayam.
Aku makan sambil mengobrol dengan
beberapa teman dari SD Muhammadiyah lainnya. Ada Latifa, Rizal Java, dan
lainnya. Kami mengobrol tentang kesan dan pesan saat di jakarta ini,
peristiwa-peristiwa saat lomba, bahkan rasa makanan masing-masing pun kita
jadikan bahan obrolan. Hahaha ….
Setelah makan, kami membeli
oleh-oleh. Aku membeli pulpen berbentuk monas, gantungan kunci monas untuk
Amel, pulpen untuk Mahesa dan Indah (teman sebangku Nurma), dan gantungan kunci
berbentuk angry birds untuk Nurma. Jika tidak kubelikan oleh-oleh, maka
Nurma akan meledak alias marah besar, lho. Hihihi ….
Setelah kami membeli oleh-oleh, kami
pun melanjutkan perjalanan. Inilah destinasi terakhir kita di Jakarta ini,
Bandar Udara Soekarno-Hatta.
BERSAMBUNG....Label: karya, sekolah, teman, tulis menulis Olimpiade di Jakarta part IV
Beberapa jam sudah berlalu. Tes
penyisihan telah selesai. Kami semua menunggu di lantai dasar untuk menunggu
hasilnya. Karena cuacanya benar-benar panas meskipun kami berada di tempat yang
teduh, maka aku dan Nurul memutuskan untuk membeli minuman segar.
“Nurul, mau beli apa?” Tanyaku.
“Es teh satu,” Pesan Nurul. “Kalau kamu?”
Nurul balik bertanya kepadaku. Aku berpikir sebentar.
“Susu cokelat dingin satu,” Pesanku
kepada sang penjual.
Tak lama kemudian, penjual tadi
memberikan kami pesanan yang telah kami pesan. Kami meminumnya di kursi-kursi
yang disediakan di depan panggung sambil bercakap-cakap.
Setelah cukup lelah bercakap-cakap,
kami memutuskan untuk berhenti bercakap-cakap. Kami menonton pertunjukkan
angklung yang sangat indah oleh siswa-siswi Muhammadiyah 08 Plus Jakarta ini.
Aku merekamnya, sementara Nurul tetap meminum minumannya. Kami berdecak kagum
melihat mereka bermain angklung. Selain itu, kami juga makin bangga dengan
Indonesia.
Setelah acara hiburan telah selesai,
tibalah waktunya pengumuman. Aku menyimak-nyimak pemenang untuk olimpiade
komputer. Sayangnya tiada namaku atau mungkin nomor pesertaku disana.
“Yang penting sudah berusaha,” Ujar
Bu Fitri sambil menepuk pundakku.
Tibalah saatnya pengumuman pemenang
lomba english dan matematika. Aku
begitu senang karena Nurul dan Akbar bisa lolos seleksi. Yah, apa boleh buat.
Mungkin suatu saat, aku harus lebih banyak berjuang dan belajar.
Malamnya, Nurul dan Akbar latihan
untuk lomba besok. Aku kesepian karena sendirian di kamar ini. Bu Fitri menemui
saudaranya. Kalau main netbook, sedang
dipinjam oleh seorang siswa SD Muhammadiyah 2 untuk ikut babak final esok
harinya.
“Uh, sebal,” Bisikku sambil mengunyah
sebuah pizza. Aku masih memakan
beberapa sisa pizza sambil menonton
acara pencarian bakat di sebuah stasiun televisi.
Tok … tok ….
Terdengar bunyi ketukan pintu. Aku
membukanya. Ternyata itu Nurul! Nurul sudah selesai belajar. Aku baru saja
ingin berbincang-bincang dengannya. Tetapi … dia malah ganti baju piyama dan
tidur.
Hehehe … mungkin kamu lelah, ya, Nur? Tanyaku dalam hati sambil memandangi
dirinya yang tertidur pulas.
Tilililit!
Ada SMS masuk dari HP-ku! Aku segera membacanya. Ternyata itu Om
Wedi. Di HP tertulis, Om Wedi sudah sampai di lobby hotel. Aku pun segera menghampiri Om Wedi yang berada di lobby.
Di Lobby….
“Assalamu’alaikum, om. Ada apa?”
Tanyaku.
“Wa’alaikumussalam, Salsa. Ini, om
bawakan camilan,” Ujar Om Wedi.
Karena aku sudah mulai mengantuk,
maka aku segera membawa camilan-camilan tadi untuk dimakan di kamar. Tak lupa
mengucapkan terima kasih kepada Om Wedi.
Sambil menunggu Bu Fitri kembali, aku
memakan hot dog pemberian Om Wedi.
Setengah jam kemudian, Bu Fitri kembali. Dalam waktu bersamaan, hot dog-ku juga habis. Maka aku bersama
Bu Fitri pun mulai tidur.
BERSAMBUNG....
Label: karya, sekolah, teman, tulis menulis Olimpiade di Jakarta part III Halo, semuanya. Maaf, ya, Elsa enggak pernah online. Soalnya laptop hanya boleh kumainkan saat weekend. Oke, kelanjutan ceritanya....5 Menit kemudian ….
“Hoak, aku kenyang …,” Ujar Nurul
lemas. “El, makanlah bagianku,” celoteh Nurul. Aku memandangi ayam Nurul yang
tersisa sedikit.
“Enggak, aku juga kenyang,” Jawabku
sambil menyeruput es teh. “Aku cuci tangan dulu, ya. Kalau kalian sudah kenyang
habiskan es tehnya.” Ucapku sambil bangkit, kemudian menuju sebuah washtafel.
Setelah mencuci tangan, aku melihat
mejaku sudah kosong tak berpenduduk. Maka aku ke halaman depan untuk mencari
mereka berempat. Di halaman depan, aku melihat Akbar dan Robby bermain game di HP.
Maka aku menonton mereka bermain game dari samping.
Begitu Bu Fitri selesai membayar,
kami kembali ke mobil masing-masing lalu melanjutkan perjalanan menuju Hotel.
“Eh, Latifa, coba deh lihat,” Aku
menyodorkan hasil jepretanku kepada Latifa. Latifa menutup mukanya dengan cara
menunduk di meja.
“Aduuh, Elsa …,” Latifa menyambar
kamera kemudian menghapusnya. Aku hanya tertawa terpingkal-pingkal.
Bruugh!
Aku membanting diriku di kasur yang
empuk ini. Kasur yang berada di sebuah ruangan hotel ini benar-benar empuk.
Rasanya seperti tertidur di awan. Hmm ….
Tok, tok, tok …. Terdengar suara
ketukan pintu.
“Elsa, tolong dibuka,” Ujar Nurul
sambil membuka kopernya. Dia berniat sholat, kemudian mengganti baju menjadi
piyama.
Aku pun menuruti suruhan Nurul kubuka
pintu itu. Ternyata itu adalah ….
“Tante Angel!” Seruku. Tante Angel
dan temannya, Om Wedi membawakan kami sekotak pizza. Betapa senangnya kami.
Tante Angel merupakan adik mama.
Beliau bekerja sebagai dokter di Jakarta Pusat. Wah, wah, maaf merepotkan, ya,
tante ….
Setelah itu, Tante Angel dan Om Wedi
berbicara sebentar dengan Bu Fitri dan Pak Sugito. Sementara aku dan Nurul
bersiap-siap untuk mandi, sholat, makan pizza,
dan tidur. Tak lupa belajar dulu sebelum tidur. Kami akan lomba besok.
Hari minggu, hari olimpiade! Aku
terbangun dari mimpi indahku. Segeralah aku sholat, berpakaian, menyiapkan
barang-barang yang menurutku perlu dibawa, sarapan, dan berangkat. Aku harus
menyiapkan ini semua faster than light!
“Ya ampuuun … Elsa! Kamu cepat banget
makannya,” Seru Nurul sambil melahap nasi goreng. Aku hanya terkikik.
Maka sambil menunggu Nurul aku
menunggu di halaman depan hotel sambil melihat pemandangan yang ada. Di sisi
lain, aku juga berusaha mencari ide cerpen dengan mengamati sekitar. Untungnya,
hotelnya kecil dan hanya berlantai tiga. Jadi, Nurul tidak perlu repot
mencariku.
Beberapa menit kemudian, semua murid
dan guru sudah menunggu di halaman depan. Begitu juga kedua mobil pengantar
kami yang sudah siap mengantar kami semua. So,
let’s go!
Setelah mengetahui nomor peserta
masing-masing, kami diberi kalung pengenal, mengisi nama dan nomor peserta,
kemudian di beri parfum. Lho? Kok parfum, El? Ya iyalah. Jakarta kan panas,
jadi dapat menyebabkan bau keringat. Kalau nanti peserta-pesertanya pingsan
gimana? Hehehe….
“Ada yang mau?” Tanya Bu Fitri sambil
menoleh kearah kami berempat.
Sret! Akbar, Robby, dan Nurul menunjukku seketika.
“Lho, kok aku?” Seruku.
“Kan kamu orangnya percaya diri, El,”
Jelas Nurul. Tanpa pikir panjang, aku maju ke depan sambil memikirkan cerita
Surat Misterius buatanku. Karena aku lumayan tinggi, maka aku berada di tengah.
Jadi, nanti mike-nya akan dioper
dulu. Terus, kita menyebutkan nama, kelas, dan SD Muhammadiyah kita. Setelah
selesai, kita oper kembali ke teman sebelah kita. Begitu juga seterusnya. Dari
semua orang yang ada di panggung, tidak sedikit juga yang menambahkan kata
‘horas’ atau yang semacamnya.
Setelah itu, kami kembali turun ke
panggung. Tidak lupa bersalaman dengan Bapak Dokter Dien Syamsuddin. Rasanya
senang sekali bisa bersalaman dengan seseorang yang menjadi ketua Muhammadiyah
Indonesia.
Setelah itu, sang ketua Muhammadiyah
Indonesia memotong sebuah tali dengan spanduk di atasnya. Tali itu akan
dipotong. Setelah dipotong, maka gulungan spanduk tadi akan terjatuh, dan
terdapat tulisan ‘Selamat berlomba’. Itulah tanda pembukaan olimpiade ESMIC.
Setelah itu, kami langsung menuju ruang
olimpiade kami. Aku mulai masuk bersama beberapa murid lainnya dari nusantara
yang luas ini. Kami segera mengambil tempat duduk sesuai urutan nomor.
Kemudian, kami dibagikan soal-soal beserta lembar jawabannya. Kami
diperbolehkan mengisinya saat sudah berbunyi bel.
Teeet!
Wah, bel sudah berbunyi! Seruku dalam hati. Aku segera
mengambil napas panjang, kemudian mengisi lembar jawaban sesuai soal-soal yang
ada.
BERSAMBUNG....
Label: karya, sekolah, teman, tulis menulis Olimpiade di Jakarta part II Sudah baca part I? Sekarang Part II.
“Oke, El. Siapa takut,” Ujar Nurul
mengikutiku. Kami menaiki sebuah pesawat, disambut pramugari-pramugarinya,
kemudian mencari tempat duduk.
“Ya ampun,” Gunamku. Ternyata aku
duduk diantara dua murid laki-laki dari SD Muhammadiyah 2 Denpasar!
“El, ada apa?” Tanya Pak Gito. Pak
Gito adalah nama kecil dari Pak Sugito.
“Pak, saya mau pindah duduk. Saya
tidak mau duduk diantara anak laki-laki,” Ujarku.
Alhamdulillah, akhirnya aku bisa
bertukar tempat duduk dengan seorang murid laki-laki. Maka, aku duduk di antara
Pak Gito dan seorang murid perempuan dari SD Muhammadiyah 2 Denpasar. Entahlah
siapa namanya, Elsa sudah lupa.
Pesawat mulai take-off (berangkat). Sambil mengencangkan sabuk pengaman, aku
bersama temanku itu mengobrol sebentar, kemudian temanku tadi tertidur. Begitu
pula dengan Pak Gito. Oh, ya, perjalanan dari Denpasar ke Jakarta itu
membutuhkan waktu 2 jam. Sambil menunggu, aku bernyanyi dalam hati.
Pesawat berangkat jam 17.00 WITA,
maka waktu kami sampai di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta kira-kira 18.00 WIB.
Kami menuju tempat penjemputan. Kami semua akan diantar oleh anak dari Bu Fitri
dan kerabat dari salah satu guru dari SD Muhammadiyah yang lain.
Pertama-tama, kami ke Jakarta Timur
dahulu. Kemudian kami mencari tempat makan yang cocok. Pilihan jatuh kepada
sebuah rumah makan yang menyediakan lalapan.
Masing-masing murid mengorder segelas
es teh. Begitu pula diriku. Tetapi begitu dicoba, es teh milik ketiga temanku
dari SD Muhammadiyah 2 (lagi-lagi lupa namanya, nih. Tetapi Elsa ingat salah
nama salah satu dari mereka, yaitu Latifa) tidak manis alias tawar. Makanya,
mereka memintaku untuk meminta gula.
“Ayo, dong, El. Bantu mereka,” Nurul
mendorong-dorong bahuku.
“Enggak. Kalian saja yang lakukan,”
Jawabku cuek sambil membalas SMS dari Tante Angel.
“Yaah … lebih baik kamu, El. Kan kamu
berani,” Nurul mendorong-dorong bahuku lebih keras. Tetapi aku terdiam sambil
tetap membalas SMS Tante Angel. Dan akhirnya aku jera juga, deh.
“Ya sudah,” Aku mengirim pesan
kemudian memasukkan kembali HP-nya ke dalam tas. Aku berjalan menuju dapur.
“Permisi, bu …,” Aku masuk ke dalam
dapur. Disana ada seorang ibu-ibu membakar lalapan kami.
“Iya, ada apa, mbak?” Tanya ibu itu
sambil menoleh kearahku.
“M … mau minta gula sedikit, bu,”
Jawabku. Kemudian ibu itu memberikanku sebuah toples berisi gula. Aku segera
berterima kasih, kemudian berlari kecil menuju teman-temanku tadi.
“Mana gulanya?” Nurul menagih gula
dengan suara serak. Mendekati suara preman. Hahaha ….
“Nih,” Aku menyodorkan toples berisi
gula tadi kepada Nurul.
Nurul menaruhnya di meja, membukanya,
kemudian diserbu oleh ketiga anak tadi. Karena menurutku lucu karena tangan
mereka tersangkut di dalam toples, maka aku segera mengambil kamera milik bapak
dari dalam tas, dan memotretnya. Tetapi, Latifa sangat pemalu. Sehingga dia
segera menutup wajahnya. Jadi, hasilnya jelek, deh.
“Nurul, lihat kesini,” Sahutku kepada
Nurul yang berada di depanku. Kemudian aku menjepretnya.
“Ini dia nasi lalapannya,” Ibu
penjual menyodorkan lima piring ayam lalapan beserta sambal, nasi, dan sayur
mayurnya.
Kemudian ibu penjual tadi mengambil
toples gula setelah kami menyatakan bahwa kami sudah menambahkannya ke dalam teh
kami. Kami berdo’a bersama, kemudian makan serakus-rakusnya.
Bersambung....
Label: karya, sekolah, teman, tulis menulis Olimpiade di Jakarta part I Halo semuanyaaaa! Gimana, nih kabar kalian? Maaf, ya, Elsa jarang post di Blog. Gara modem habis, nih. Jadi, sebagai permintaan maaf, Elsa akan memberi kalian... CERBUNG. Oke, deh, langsung aja, yaaa....
Setelah masuk kelas V D, aku memiliki
jadwal yang benar-benar padat. Itu karena Pak Sugito selalu mewakiliku untuk
beberapa olimpiade. Diantaranya matematika, komputer, bahasa inggris, dan
melukis.
Salah satu olimpiade yang paling
berkesan bagiku adalah saat olimpiade di Jakarta. Olimpiadenya bernama ‘English, Science, Math, ISMUBA, and Computer
(ESMIC)’ . Itu adalah olimpiade sekolah-sekolah Muhammadiyah se-Indonesia. Aku
akan mengikuti lomba komputer.
Perjalanan olimpiade kami benar-benar
seru. Kami bertemu dan berkenalan dengan teman-teman nusantara, belajar
bersama, sampai bertemu artis saat kami balik lagi ke Bali. Wah, wah … siapa,
ya? Makanya, ayo kita baca!
Sore itu, kami berkumpul di SD Muhammadiyah
1 Denpasar, sekolah. Kami akan diabsen lebih dahulu. Selain murid dari SD
Muhammadiyah 1, ada juga SD Muhammadiyah 2, SD Muhammadiyah 3, dan SD
Muhammadiyah 4.
“Baik, semuanya sudah. Kita bisa
berangkat, pak,” Ujar Bu Fitri, guru budi pekerti kepada Kepsek SD Muhammadiyah
1 Denpasar, Pak Choliludin.
“Baik, anak-anak. Kita naik bemo,
tetapi harus beris yang tertib dan menyeberang dulu, ya,” Pinta Pak Choliludin.
“Baik, pak,” Jawab kami semua.
Setelah itu kami menyeberang, kemudian menaiki bemo.
“Dadaaah!” Kami melambaikan tangan
kepada orang tua kami.
“El, kamu punya keluarga enggak di
Jakarta?” Tanya Nurul. Masih ingat Nurul, kan? Yap, si ‘peringkat satu’ saat
penyisihan kelas.
“Ada. Tante Angel, Om Wedi, terus …
keluarga dari sepupuku, Alia,” Jawabku. Hihihi … namanya sama dengan adikku,
ya.
“Oh …,” Nurul ber-oh saja. Kemudian,
kami tidak bercakap-cakap lagi. Aku sibuk SMS-an dengan Tsamara. Nurul melihat
pemandangan sambil memakan snack-nya.
Di Kuta ….
“Kok, aku merasa dari tadi kita tidak
berjalan, ya?” Tanyaku.
“Kita kena macet, El.” Jelas Pak
Sugito yang berada di sebelahku.
“Kalau kita terlambat check in bagaimana?” Sahut Nurul
khawatir. Aku menatap jam.
“Tidak apa-apa, Nurul. Check in itu paling lambat 30 menit,”
Ujarku menenangkan. Beberapa menit kemudian, akhirnya kami bebas dari ‘samudera
klakson, asap, mobil, dan motor’.
“Fiuh, akhirnya enggak kena lagi deh,”
Nurul melepaskan napas lega. Aku mengangguk, kemudian meminta izin untuk
meminta keripik singkongnya. Nurul mengiyakan.
Beberapa menit kemudian ….
“Nurul, lihatlah! Kita sudah sampai,”
Sahutku sambil menjulurkan leherku. “Kita sudah sampai di Bandara Internasional
I Gusti Ngurah Rai!”
“Iya!” Sahut Nurul sambil melihat
pemandangan di kaca sebelahnya. Segeralah kami turun dari bemo, check in,
kemudian menunggu pesawat.
“Nurul, kita membaca buku dulu, yuk,”
Ajakku kepada Nurul sambil menunggu pesawat.
“Ayo,” Jawab Nurul. Aku dan Nurul
mengambil buku sesuai bidang lomba kami di dalam koper. Kata Pak Sugito, lebih
aman dibawa saja. Karena aku memang membawa netbook.
O, ya, Nurul itu mengikuti lomba
matematika. Selain kami berdua, ada dua anak juga yang mewakili SD Muhammadiyah
1 Denpasar. Yaitu Robby di Sains, dan Akbar di English.
“Anak-anak, pesawatnya sudah sampai,”
Sahut seorang guru dari SD Muhammadiyah 2 Denpasar. Kami segera bersiap-siap
kemudian berbaris. Guru tadi memberikan tiket-tiket pesawat kepada kami.
“Ayo, Nurul. Let’s go!” Sahutku kepada
Nurul yang di belakangku sambil menarik koperku.
Bersambung....
Label: karya, sekolah, tulis menulis Anak baru
Hari ini, kelas VI ramai dan heboh. Pasalnya, ada anak baru. Namanya Kaila, dia masuk ke kelas VI C, bukan di kelasku, VI E. Tapi, kata teman-teman dia itu membuat orang marah-marah. "Kaila anak baru tapi ngeselin!" Seru salah seorang temanku. Hari senin nanti, aku ingin menemuinya. Aku ingin tahu, seperti apa, sih, tampangnya? Dan insyaallah, besok akan kuberi dia bukuku agar dia tidak marah-marah lagi. Wah, rasanya tidak sabar, deh. My Secret than can make you gasp Assalamu'alaikum, bloggers. Hari ini... malam minggu, ya? Daripada malam-malam nonton yang negatif-negatif, coba, deh baca post Elsa kali ini. Sesuai judulnya, ada sebuah rahasia Elsa yang mungkin agak (atau mungkin lebih) mengejutkan bagi kalian. Apakah itu?
Lho, lho? Kenapa Elsa benci KKPK? Alasannya cukup sepele, lho. Alasannya adalah... Saat itu, teman-teman Elsa suka membawa dan membaca KKPK setiap hari. Bahkan, saat sholat jum'at. Mereka malah asyik-asyiknya membaca KKPK, sementara Elsa menjulurkan leher dengan susah payah hanya untuk mendengar khutbah dengan lebih keras dan jelas. Kalau Elsa benci KKPK, kenapa bisa menjadi penulisnya? Karena Elsa mau mengharumkan nama baik sekolah(Hanya itu saja alasannya). Jalan pintas untuk melakukannya hanyalah ikut menjadi penulisnya. Ide membuat cerita pun terbenak saat Elsa masih kelas IV. Dan alhamdullillah, itu sudah terwujud. Elsa juga makin suka sama KKPK. Dan makin banyak adik-adik kelas yang kenal Elsa. Bahkan ramadhan lalu, saat Elsa memberi-beri buku kepada beberapa teman Elsa, adik-adik kelas melihatnya dan juga ingin minta. Langsung saja, deh, Elsa lari diikuti oleh adik-adik kelas. Akhirnya, kami berlari keliling sekolah (-_-#) Label: KKPK, sekolah, tulis menulis |